Kisah Abdullah Dzul Bajadain


Abdullah Dzul Bajadain

Menjemput ridho Rasulullah dengan Kesederhanaan

 

            Dzul Badajain adalah anak yatim dan tidak memiliki harta. Ketika ayahnya meninggal, ia tidak meniggalkan harta warisan. Setelah itu ia diasuh oleh pamannya hingga ia memiliki kecukupan hidup.

            Ketika mendengar Rasulullah berhijrah ke Madinah, ia sangat berkeinginan untuk segera masuk Islam. Tapi ia tidak bisa memenuhi keinginannya, karena dihalang halangi oleh pamannya, hingga berlalu beberapa tahun dan terjadi berbagai peristiwa. Akhirnya, ia berkata kepada pamannya, “Paman, saya menunggu nunggu paman masuk Islam, tetapi aku melihat paman tidak tertarik dengan Muhammad. Kalau begitu izinkanlah aku masuk Islam!”

            Pamannya berkata, “Demi Allah, kalau kamu mengikuti Muhammad, semua yang kuberikan kepadamu akan kutarik kembali, bahkan kedua potong bajumu ini.”

            Ia berkata, “Demi Allah, aku lebih memilih untuk mengikuti Muhammad dan meninggalkan penyembahan terhadap bebatuan! Silakan ambil apa saja yang ada ditanganku!”

            Pamannya pun mengambil semua yang pernah ia berikan kepadanya, sampai sarungnya.

            Ia pulang kerumah ibunya. Melihat kondisi anaknya, sang ibu memotong satu bajunya menjadi dua, lalu ia berikan kepadanya. Satu potong digunakan untuk bawahan dan yang satu lagi dugunakan untuk atasan.

            Setelah itu, ia berangkat ke Madinah melewati jalur gunung Waraqan. Sesampai di Madinah, ia tiduran dimasjid, tepatnya pada waktu sahur menjelang masuknya waktu shubuh. Seperti biasanya, Rasulullah selalu memeriksa orang orang begitu mereka selesai shalat shubuh. Beliaupun melihatnya.

            Beliau bertanya, “siapa kamu?”

            Ia menyebutkan nasabnya, nama dia yang sebenarnya adalah abdul uzza.

            Rasulullah berkata, “kamu adalah Abdullah, Dzul Badajain (pemilik baju yang dibelah dua).” Kemudian beliau mengatakan kepadanya, “tinggallah disebelah rumahku!”

            Sejak saat itu, ia menjadi tamu Rasulullah hingga ia mendapatkan banyak sekali hafalan Al Qur’an.

            Pada tahun 9 Hijriyah, ketika terjadi peristiwa keluarnya Rasulullah menuju perang Tabuk, Dzul Badajain berkata kepada Nabi, “Berdoalah kepada Allah agar mengaruniaiku kesyahidan!”

            Nabi bersabda, “sesungguhnya ketika engkau keluar untuk berperang, kamudian kamu sakit demam hingga mati, atau terlempar dari hewan tungganganmu hingga lehermu patah, maka engkau adalah syahid.”

            Dzul Badajain meraih kesyahidan. Rasulullahu berdoa untuknya, “Ya Allah, sesungguhnya sore tadi aku telah ridho kepadanya, maka ridhoilah dia!”

            Semoga Allah meridhoi Dzul Badajain dan seluruh shahabat. Setiap shahabat adalah lebih baik dari pada orang yang datang setelah generasi mereka, baik mereka yang dikenal maupun yang tidak dikenal. (mA; April 1, 2012)

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s