Pelajaran dari Pemugaran Masjid Nabawi


Pelajaran dari Pemugaran Masjid Nabawi

Pada tahun 17 Hijriyah, ‘Umar bin Khattab memulai proyek pemugaran dan perluasan masjid Nabawi. Tak tanggung juga, ‘Umar membeli semua rumah di sekitar masjid kecuali rumah ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib dan rumah istri-istri Nabi.

Kepada ‘Abbas ‘Umar berkata, “Wahai Abu Fadhal, sesungguhnya masjid ini telah penuh sesak oleh kaum muslimin. Aku telah membeli semua rumah di sekitarnya untuk memperluas masjid demi keperluan mereka kecuali rumahmu dan kamar-kamar Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi). Terkait dengan kamar-kamar Ummahatul Mukminin, tidak ada cara untuk mengambilnya. Terkait dengan rumahmu, maka juallah kepadaku seharga berapa pun yang akan aku ambilkan dari Baitul Mal kaum muslimin untuk keperluan memperluas masjid mereka.”

“Aku tidak akan melakukannya,” jawab ‘Abbas.

“Pilihlah salah satu dari tiga opsiku ini,” kata ‘Umar, “Engkau jual kepadaku dengan harga berapa pun dari Baitul Mal, aku gambar untukmu sekehendakmu dari Madinah ini lalu kubangunkan untukmu dengan biaya penuh dari Baitul Mal, atau engkau sedekahkan rumahmu kepada kaum muslimin sehingga masjid mereka dapat diperluas.”

“Tidak. Aku tidak mau memilih salah satu dari ketiganya,” ‘Abbas bersikukuh.

‘Umar berkata, “Jika demikian, pilihlah seseorang yang kamu kehendaki untuk menyelesaikan masalah antara aku dan kamu ini!”

“Ubay bin Ka’ab,” jawab ‘Abbas.

Maka keduaya menemui Ubay dan menceritakan apa yang terjadi di antara keduanya. Ubay menjawab, “Jika kalian mau, kusampaikan kepada kalian sebuah hadits. Kudengar Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada Dawud untuk membangun sebuah rumah untuk mengingat-Nya. Dawud menggambar gambar itu—yakni batas-batas Baitul Maqdis. Kesempurnaan bentuk perseginya berada di pojok rumah salah seorang Bani Israil. Dawud memintanya agar menjualnya kepadanya. Orang itu menolaknya. Maka terbersit di hati Dawud untuk mengambil paksa. Maka Allah berfirman, ‘Wahai Dawud, Aku perintahkan kamu untuk membangun rumah untuk mengingat-Ku, lalu kamu hendak memasukkan ke dalam rumah-Ku suatu pemaksaan. Aku tidak mau ada pemaksaan. Hukuman bagimu: kamu tidak perlu membangunnya!’ Dawud berkata, ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana jika anakku?’ Allah menjawab, ‘Ya, biar anakmu yang membangunnya.’.”

Mendengar hadits itu ‘Umar menarik kerah baju Ubay seraya berkata, “Aku datang kepadamu dengan suatu perkara, namun kamu menyampaikan yang lebih berat lagi! Kamu harus berbicara di depan banyak orang terkait dengan apa yang barusan kamu sampaikan!”

Kemudian ‘Umar membawa Ubay ke masjid dan dihadapkan pada sekelompok orang yang di antara mereka ada beberapa orang sahabat Nabi saw. Ubay menyampaikan hadits Baitul Maqdis saat Allah memerintahkan Dawud untuk membangunnya. Semua sahabat yang mendengar hadits itu mengingatnya. Abu Dzar berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah saw.” Yang lain menimpali, “Aku juga mendengarnya—yakni dari Rasulullah saw.”

Maka ‘Umar melepaskan Ubay. Begitu dilepaskan, Ubay berdiri tegak tepat di hadapan ‘Umar seraya berkata, “Wahai ‘Umar! Apakah kamu menuduhku berdusta atas nama Nabi saw?”

‘Umar menjawab, “Wahai Abu Mundzir, aku tidak menuduhmu. Aku hanya ingin agar hadits Rasulullah saw ini didengar banyak orang.”

Lantas kepada ‘Abbas, ‘Umar berkata, “Pergilah! Aku tidak akan menawarkan apa-apa lagi terkait dengan rumahmu.”

‘Abbas menjawab, “Jika itu yang kamu ucapkan, maka aku menyedekahkannya untuk kaum muslimin. Perluaslah masjid mereka! Namun jika kamu ingin berhadap-hadapan denganku, aku tidak akan melepaskan rumahku.”

Akhirnya ‘Umar menggambar rumah ‘Abbas di Zaura` dan membangunnya dengan biaya dari Baitul Mal kaum muslimin.

Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari sepenggal kisah yang terjadi menjelang pemugaran masjid Nabawi di atas. Pelajaran tentang persaudaraan, keberanian, kejujuran, ketulusan, komitmen kepada Sunnah, dan berbagai kebajikan lain yang dibawakan oleh ‘Umar bin Khattab, ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib, dan Ubay bin Ka’ab di atas.

Meskipun ‘Umar menjabat posisi khalifah, ia tidak sewenang-wenang. Dia tidak memaksakan kehendaknya kepada ‘Abbas. Namun, dengan ketundukannya kepada keputusan Ubay yang telah dipilihnya, tanpa diduganya, ia mendapatkan jalan keluar.

‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib, meskipun termasuk keluarga besar Rasulullah saw, ia tidak sombong. Ternyata sebenarnya ia hanya benar-benar menjaga keikhlasan dan kebersihan amal. Dia tidak ingin ada faktor pendorong lain untuk amal shalih yang akan dilakukannya.

Ubay, meskipun di hadapan ‘Umar yang terkenal tegas-keras dan ‘Abbas yang penuh kharisma, tidak gentar dan ragu untuk menyampaikan kebenaran. Kebenaranlah yang mesti dibela. Tak perlu takut celaan ataupun intimidasi dari pihak lain. Baginya, yang terpenting adalah menyampaikan kebenaran. Sesudah itu, biarlah terjadi apa yang terjadi. (mA; April 9, 2012)

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s