Beribadah Dengan Penuh Cinta


BERIBADAH DENGAN PENUH CINTA

Ibadah dalam defenisi para ulama, didefinisikan dengan, “Sebuah nama yang dilabelkan untuk setiap sesuatu yang dicintai Allah Ta’ala, baik berupa perkataan atau perbuatan yang nampak atau yang tidak nampak, disertai kecintaan, kehinaan dan ketundukan yang sempurna serta berlepas diri dari seluruh perkara yang membatalkan nilai ibadah atau yang menguranginya nilainya”.

              Cakupan ibadah ini sangat luas, Ibnu Qudamah menuturkan, “saya berusaha untuk selalu mempunyai niat (nilai ibadah) pada segala sesuatu, bahkan sampai makan, minum, tidur dan masuk kamar mandi, karena segala sesuatu yang mubah kalau diniatkan (untuk ibadah), maka akan bernilai taqarrub.

 

Urgensi Ibadah

              Otoritas ibadah juga bersifat mutlak dan murni, sehingga tidak boleh diberikan untuk selain Allah SWT.

              Dari Mu’adz bin Jabal berkata, Nabi bertanya, “Hai Muadz tahukah kamu apakah hak Allah  dari hamba-Nya?”  Muadz berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Beliau bersabda, “Yaitu beribadah kepada-Nya dan tidak menjadikan bagi-Nya sekutu sesuatu  pun. Nabi bertanya, “Lalu apakah hak hamba dari Allah? Muadz berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Beliau bersabda, “Yaitu bahwasanya (Dia) tidak akan menyiksa mereka”. (HR.Bukhari)

              Ibnu Taimiyyah berkata ketika menafsirkan surah Adz Dzariyat ayat 56, “Ibadah kepada Allah adalah tujuan penciptaan dan tujuan diutusnya para rasul”.

             

Pondasi Ibadah

Di dalam beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya, harus dilandasi dengan tiga pondasi:

  1. Cinta (Mahabbah)
  2. Harap (Raja’)
  3. Takut (Khauf)

Ketiga pondasi ini telah Allah pesankan secara bersamaan di dalam ummul Qur’an surah al Fatihah.

Pesan cinta itu terdapat dalam firman Allah:

] الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  [

Kalimat yang mulia ini adalah pujian dan sanjungan sang pecinta kepada dzat yang dicintainya yaitu Allah SWT.

Pesan harap itu terdapat dalam firman Allah:

] الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ[

Dalam ayat ini ada pesan harap bagi orang mukmin terhadap Rabb-Nya, ia mencintai rahmat-Nya dan selalu berharap untuk dapat meraihnya.

Sedangkan pesan takut itu disampaikan dalam ayat:

]مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ[

Yaumuddin adalah hari pembalasan dan penghisaban segala amal.

Selanjutnya ibadah yang sempurna akan diraih ketika tiga rukun ini terdapat dalam sanubari hamba:

]إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ[

Maknanya, “ya Allah saya beribadah kepada-Mu dengan penuh cinta, penuh harap, serta penuh takut”.

Di surah yang lain, secara bersamaan Allah SWT meyebutkan ketiga sifat ini, Allah SWT berfirman:

]إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ[

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami”. (QS. Al Anbiyaa’: 90)

            Ketiga pondasi diatas harus ada dalam ibadah seorang mukmin, sebagian salaf berkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan rasa cinta (mahabbah) saja maka dia zindiq, barang siapa yang beribadah kepada Nya dengan harap (roja’) saja maka dia seorang murji’ah, dan barangsiapa yang beribadah kepada Nya dengan takut (khouf) saja maka dia khowarij, dan barangsiapa yang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan mahabbah, khouf dan roja’ maka dia seorang mukmin sejati”.

              Ibnul Qoyyim mengibaratkan ibadah dan pondasinya dengan seekor burung, kepalanya sebagai pengendali adalah mahabbah, sayapnya yang satu khouf sedangkan yang lainnya sebagai roja’. Mahabbah lah yang mengendalikan ibadah, sedangkan roja’ dan khouf harus diseimbangkan agar ibadah betul-betul berjiwa dan terus berjalan sebagaimana burung bisa terbang dengan merentangkan dan menyeimbangkan kedua sayapnya.

 

Potret Ibadah Penuh Cinta

Nabi Ayyub mendapatkan ujian dari Allah Ta’ala berupa sakit yang menghabiskan seluruh badannya namun beliau tetap mengerjakan ibadah, kalimat indah yang keluar dari lisan beliau adalah, “Ya Allah, janganlah engkau biarkan ulat-ulat ini memakan lidahku agar aku senantiasa bisa berdzikir kepada-Mu”

Nabi Muhammad orang yang telah dijamin masuk jannah, tetap memperbanyak ibadah kepada Allah Ta’ala. Beliau bertutur, “Tidak bolehkan aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?” [Hr. Bukhari]

Bagi mereka Ibadah adalah kebutuhan ruhiyah, dengan beribadah hati sehat dan jiwa tenteram. Bersabar dalam segala ujian yang melanda, dan tetap istiqamah dalam kondisi sulit maupun lapang akan menjadi kebiasaan hidup. Dalam hal ini bisa kita meneladani Ibnu Taimiyah ketika beliau dipenjara, satu kalimat indah yang keluar dari lisan beliau adalah:” Apa pun yang diperbuat musuhku, sungguh jannahku berada di hatiku. Jika mereka menahanku inilah waktuku untuk berkhalwat dengan Rabb ku. Jika mereka membunuhku sungguh kesyahidan akan ku raih, dan jika mereka mengusirku itulah siyahah bagiku”. (MMA; DESEMBER 16, 2012).

 

 

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s