Sungguh Allah Maha Kaya


SUNGGUH, ALLAH MAHA KAYA

Beberapa waktu yang lalu saya mendengar berita yang mengejutkan. Seorang ikhwan mengalami kecelakaan, motor yang dikendarainya menabrak motor lain yang sedang menyeberang. Dan teman yang diboncengkannya jatuh terpental hingga akhirnya meninggal dunia. Banyak orang menyayangkan kewafatannya, karena umurnya masih muda dan belum berkeluarga. Namun apa dikata, Allah memang telah menakdirkan umurnya sampai di situ. Yang menarik, ada seorang teman berkomentar, “Yah..memang jatah rizkinya sudah habis.”

Meninggal, rizki telah sempurna

Memang, seorang yang meninggal dunia berarti Allah telah memberikan rizkinya dengan sempurna. Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam hatiku, bahwa seseorang tidak akan meninggal dunia hingga sempurna rizkinya dan ajalnya.” (HR. Ibnu Hibban)
Rizki dan ajal adalah dua perkara yang sudah dijamin oleh Allah ta’ala. Selagi ajal masih ada maka rizki akan menghampirinya. Jika Allah dengan hikmah-Nya menutup satu pintu rizki maka dengan rahmat-Nya pula Dia akan membuka jalan pintu lain yang lebih bermanfaat dari jalan pertama.

Satu,dua,empat kemudian delapan

Ibnu Qayyim Al Jauziyah menyebutkan dalam kitab Al Fawaid tentang macam rizki yang diberikan Allah kepada para hamba-Nya, baik semenjak di dalam perut ibunya ketika masih berupa janin hingga ia meninggal dunia dan mendapatkan jannah-Nya. Jika Allah telah memutus satu rizki maka Dia akan menggantinya dengan rizki lain yang lebih banyak dan lebih baik.
Beliau berkata. “Perhatikanlah keadaan janin sewaktu dalam kandungan. Rizki yang berupa darah datang kepadanya dari satu jalan, yaitu tali pusar. Ketika janin tersebut keluar dari perut ibunya, terputuslah jalan rizki tersebut. Namun Allah membukakan baginya dua jalan lain, yang mengalir dari keduanya rizki yang lebih baik dan lebih lezat dari yang pertama, yaitu susu murni yang bersih (maksudnya air susu ibu/ASI). Jika penyusuannya sudah usai dan terputus dua jalan tadi dengan adanya penyapihan, Allah membukan empat jalan lain yang lebih sempurna dari yang pertama dan kedua tadi, yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan tersebut berasal dari hewan dan tumbuhan sedangkan dua minuman tersebut berasal dari air dan susu, yang masing-masing memberikan manfaat dan kenikmatan. Jika manusia mati terputuslah empat jalan tadi, namun Allah membukakan delapan jalan baginya –kalau ia bahagia- yaitu pintu-pintu surga yang berjumlah delapan. Ia dapat masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki.”

Allah Maha Pemberi Rizki

Allah-lah satu-satunya pemberi rizki. Ia adalah “Ar-Razzaq”, yang Maha memberi rizki. Allah menciptakan semua jenis rizki itu dan Allah pula yang memberikannya kepada makhluk-makhluk-Nya.
Firman-Nya; “Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Adz-Dzariyat: 58)
Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman,
“Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim).
Mengenai hadits ini, Ibnu Rajab rhm, “Hadits ini memotivasi setiap makhluk untuk meminta pada Allah dan meminta segala kebutuhan pada-Nya.”
Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda,

“Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.’ Dan Rasulullah saw bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Hajar Al Asqalani rhm berkata, “Allah sungguh Maha Kaya. Allah yang memegang setiap rizki yang tak terhingga, yakni melebihi apa yang diketahui setiap makhluk-Nya.”

Jadi mestinya kita tidak khawatir, karena Allah Maha Kaya. Selagi kita masih hidup berarti rizki kita masih ada. Tinggal bagaimana kita bersikap, apakah mau berusaha atau hanya duduk-duduk berpangku tangan. Karena keimanan yang benar, rizki bukan hanya dinanti-nanti. Kita bukan menunggu ketiban rizki dari langit. Selain doa harus ada usaha. Wallahul musta’an. (M;ydsui Feb 12)

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s