Tawadhu’ : Menyadari Keterbatasan


TAWADU’: MENYADARI KETERBATASAN 

Seberapa pun tinggi dan capaian seseorang dalam merengkuh harta dunia dan kekuasaan, sebenarnya ia tidak beranjak dari hakikat diri sebagai seorang hamba yang lemah dan tidak mampu mendatangkan manfaat atau mendatangkan mudarat untuk dirinya sendiri. Manfaat dan mudarat sejati, tentunya. Ini berlaku untuk semua manusia, termasuk para Nabi dan Rasul. Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa mendatangkan kemanfaatan untuk diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah.” (Al-A’raf: 188)
Benar, kita mempunyai kekuatan jasmani, kecerdasan akal, berbagai potensi, kebijaksanaan, dan kefasihan dalam berbicara. Namun demikian, semua yang kita miliki itu tidak benar-benar ada tanpa bantuan Allah. Bukankah Allah pula yang telah memberi kita semuanya?

Ketergantungan Kita
Jika kita perhatikan seorang bayi yang baru saja dilahirkan, ia belum dapat memilih atau mengambil makan dan minum sendiri. Dia pun tidak dapat membersihkan diri dari berbagai kotoran dan sumber penyakit yang menghampirinya. Seberapakah kebutuhan dan ketergantungannya kepada ibunya?Apa yang terjadi jika sehari saja ia ditinggalkan tak dirawat?
Sungguh, kebutuhan dan ketergantungan kita kepada Allah melebihi kebutuhan dan ketergantungan bayi itu kepada ibunya. Jantung kita, misalnya. Jantung membutuhkan Allah dalam setiap saatnya agar ia terus berdenyut dan darah beroksigen terpompa terdistribusikan ke seluruh tubuh lalu kembali dengan kandungan karbondioksida. Dalam setiap menit, jantung berdenyut tak kurang dari 70 kali. Dus, jutaan sel dalam tubuh kita butuh perhatian dan pemeliharaan agar tetap aktif dan normal, bukannya berubah menjadi sel kanker yang bisa saja mengganas.

Mari kita membayangkan, diri kita ini telah diserahi mengatur urusan sendiri: panca indera, nutrisi, anggota badan, dan seluruh organ tubuh. Ada jutaan pekerjaan yang harus kita selesaikan dalam satu waktu. Apakah kita dapat melakukannya walaupun hanya semenit? Ini baru usuran jasmani. Urusan ruhani dan akhirat, kita lebih bergantung lagi kepada-Nya.
Maka ketika seorang hamba dipasrahi untuk mengerjakan sesuatu tanpa pertolongan dari Allah, walau sekejap mata, sesungguhnya ia sedang dipasrahkan kepada kelemahan dan ketiadaan.

Kebodohan Kita
Mengenali hakikat diri, seseorang akan mendapati bahwa dirinya adalah sekumpulan syahwat dan insting dalam jasad yang senantiasa berusaha mendapatkan kepuasan dari semua yang dilakukannya. Pada dasarnya manusia bodoh, hampir tak pernah memperdulikan akibat perbuatannya. Seperti seorang bocah yang merengek dan menangis untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, padahal yang diinginkannya itu adalah sesuatu yang sangat berbahaya.
Jiwa manusia tak pernah henti mengajak kepada keburukan, mendorong untuk melakukan sesuatu yang menurutnya akan mendatangkan kebaikan, padahal sejatinya tidak demikian. Karena itulah, kita memerlukan ilmu yang akan membimbing kita dalam menjalani kehidupan ini. Dan jika kebodohan ini berkelanjutan dan tidak disadari, muaranya adalah kesesatan dan nyala api.

Keinginan Kita
Berbagai keinginan manusia dapat dikelompokkan menjadi dua: yang tampak dan yang tersembunyi. Yang tampak seperti makanan, minuman, harta, istri, emas, rumah—tanah, dan sebagainya.
Syahwat yang tersembunyi misalnya kesenangan untuk unggul di antara sesama, istimewa, dan ingin dijadikan rujukan. Jika Anda ingin tahu, seperti apakah syahwat yang tersembunyi ini, lihatlah diri Anda saat ada orang memuji Anda. Bukankah Anda merasa senang dan bangga? Kata-kata pujian itu masih saja terngiang-ngiang di telinga sepanjang hari.

Rasa yang merajai kita pada saat seperti itu adalah rasa yang dimunculkan oleh syahwat yang tersembunyi. Maknanya, nafsu kita tidak pernah memerintahkan sesuatu kecuali yang sesuai dengan syahwatnya. Jika seseorang tidak waspada dan hati-hati dalam hal ini, ia pasti akan menjadi tawanannya. Jika ia berbicara, maka ia akan didorong untuk berbicara tentang hal-hal yang melancarkan urusannya atau untuk kepentingannya. Jika dia mengerjakan shalat malam, yang mendorongnya adalah perasaan ‘ujubnya, bahwa dia lebih baik daripada saudaranya yang tidur.

Demikianlah, jiwa atau nafsu akan terus mengambil sesuatu dari setiap yang dilakukan oleh seseorang. Dari sini jelaslah tabiat nafsu. Siapa yang memahami hal ini, ia akan menjadi sosok yang benar-benar faqir ilallah, mengharap kebaikan dari Allah Ta’ala. (M;ydsui Feb 24)

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s