Hukum memberi uang suap agar memperoleh pekerjaan


Hukum memberi uang suap agar memperoleh pekerjaan

Pertanyaan :

Bagaimana hukum syari’at tentang orang yang memberi uang dengan terpaksa atau sukarela agar bisa memperoleh pekerjaan atau bisa mendaftarkan anaknya disuatu perguruan tinggi atau memberi uang untuk  hal-hal  yang sulit diperoleh. Karena kita lihat sekarang ini banyak sekali kasus-kasus itu terjadi, baik lembaga pemerintahan, perusahaan, perguruan tinggi, sekolah-sekolah, atau lembaga pelayanan masyarakat.  Apakah orang yang memberi uang itu berdosa dalam kondisi seperti demikian ?

Jawaban.

Tidak boleh memberikan uang untuk memperoleh pekerjaan atau untuk bisa belajar di suatu perguruan tinggi tertentu, atau memberikan uang dalam rangka mempermudah pengurusan di lembaga pemerintah dan pelayanan jasa, karena lembaga tersebut terbuka bagi siapa saja yang berminat atau setiap orang berhak mendapatkannya atau diprioritaskan bagi yang lebih dulu mendaftar atau lulus dalam seleksi.

Bagi karyawan maka tidak boleh mengkhususkan hanya kepada orang yang memberikan uang atau yang mempunyai hubungan kerabat atau hubungan dekat. Hal tersebut disebut  dengan menyuap atau menyogok. Nabi melaknat orang yang menyogok dan disogok, karena uang sogok itu akan mempengaruhi kinerja para petugas yang memegang tugas-tugas tersebut. Dampak buruknya mereka hanya akan menerima orang yang mau memberi sejumlah uang padahal mereka sudah digaji untuk kerja seperti itu.

Seharusnya mereka bekerja sesuai dengan peraturan dan tata tertib yang telah ditetapkan oleh atasannya, seperti mengutamakan orang-orang potensial dan para profesional, mengutamakan yang lebih dulu mendaftakan atau menentukan dengan ujian seleksi. Dengan demikian setiap muslim  akan rela dengan keputusan yang ditetapkan dan tidak ada paksaan untuk menyerahkan uang tambahan dari biaya yang seharusnya dibayarkan.

Dan sudah menjadi kewajiban bagi kita semua untuk tidak melakukan praktek suap (sogok) dalam  urusan dengan suatu lembaga.

Wallahu a’lam

Fatwa terkini jilid 1, syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s