Mengungkit-Ungkit Shadaqah


Mengungkit-Ungkit Shadaqah

Allah memuji orang yang menafkahkan hartanya dijalanNya (fisabilillah) dan namun Allah sangat membenci dan melarang orang mengungkit-ungkit apa yang telah dinafkahkan tersebut dihadapan orang yang menerimanya dan dihadapan orang lain, baik melalui ucapan maupun perbuatan.

Sebaik-baik orang yang bershadaqah itu adalah orang yang tidak melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh orang yang menerimanya, seperti mengumbar pembicaraan bahwa ia telah menolong si fulan, meminjamkan uang atau modal kepada si fulan, bahkan sampai berkata “kalau bukan karena aku maka sifulan pasti tidak akan seperti sekarang ini “.   Hal itu dapat menghapuskan kebaikan yang telah ia lakukan. Allah telah melarang hambanya untuk melakukan perbuatan itu dalam firmanNya :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.

Ibnu Katsir menjelakan dalam tafsirnya, Allah mengabarkan bahwa pahala shadaqah itu bisa hilang dengan sebab  mengungkit-ungkitnya atau menyakiti hati orang yang menerimanya. Maka Allah tidak akan memenuhi pahala shadaqah itu karena kesalahannya  dengan menyakiti hati orang yang telah menerimanya. Maka hapusnya nilai pahala tersebut seumpanya ia berbuat ria, karena mengharap pujian dan sanjungan atas segala kebaikan yang telah ia lakukan.

Iblis berusaha untuk membuat ia terjeumus kedalam hal yang sia-sia walaupun ia telah berbuat kebaikan. Pemberian yang di sebut-sebut itu adakalanya karena ingin disanjung oleh orang lain sebagai seorang yang dermawan, pemurah, suka menolong dan sebagainya. Padahal apa yang diberikan kepada orang lain belum sebanding dengan yang telah Allah berikan untuk dirinya, dan dia tidak memikirkan hal itu.

Rasulullah juga telah memperingatkan umatnya agar tidak termasuk kedalam golongan orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian.

Dalam sebuah hadits, dari abu Dzarr Ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Ada tiga orang yang Allah tidak akan mengajak mereka bicara ( dengan kelembutan pada hari Kiamat kelak, tidak melihat mereka (dengan pandangan kasih sayang), dan tidak pula mensucikan mereka dan bagi mereka azab yang pedih, yaitu orang-orang yang mengungkit-ungkit pemberian yang telah ia berikan (al-Mannaan), orang yang memanjangkan kainnya dibawah mata kaki ( al Musbil ), dan orang yang menjual barang dagangan dengan sumpah palsu”.

( HR. Muslim I/102)

Dari hadits yang disampaikan oleh rasulullah SAW, bahwa orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian yang telah ia berikan maka pada hari Kiamat nanti ia termasuk orang yang dihinakan oleh Allah dengan cara tidak mengajak bicara dengan kalimat yang lembut, tidak melihat dengan kasih sayang dan tidak mensucikan mereka. Yang lebih menyakitkan ia termasuk orang yang di azab oleh Allah dengan azab yang pedih. (naúdzubillah min dzalika)

Sangat penting bagi kita semua untuk mengoreksi kembali diri sendiri dalam rangka meluruskan niat dan menanamkan keikhlasan atas segala apa yang telah diperbuat. Karena semua kebaikan dan amal shaleh yang dilakukan menjadi tidak bernilai di sisi Allah apabila melanggar kaidah-kaidah yang telah disyariatkan oleh Allah dan RasulNya.

Syarat muthlak bahwa amal itu akan diterima adalah Niat yang Ikhlas dan Ittiba Rasul ( mencontoh apa yang telah diperbuat, disampaikan dan dibenarkan oleh Rasul).

Berhati-hati dalam perkataan akan memberikan banyak manfaat bagi diri kita dan orang lain. Karena setiap amal yang kecil kita lakukan apabila tidak diringi dengan sifat Mannan maka sangat bernilai besar disisi Allah di akhirat nanti.

Sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Aisyah Rah

“Jangan sekali-kali kalian mencela shadaqah sedikit apapun jumlahnya, karena sesungguhnya satu bijinya itu senilai dengan segunung pahala pada hari kiamat”.

Shadaqah yang nilainya  kecil tapi tidak diketahui oleh orang lain  jauh lebih bernilai dari pada shadaqah yang besar tapi disebarkan kepada orang lain.

Abu Hafshoh

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s