Liberalisme, Kebebasan Yang Tidak Berharga


Liberalisme, Kebebasan Yang Tidak Berharga

Istilah liberalisme berasal dari bahasa latin yang artinya merdeka (bebas). Dengan menyatakan bahwa manusia sejak lahir memiliki kebebasan. Motto Revolusi Prancis yang dijadikan sebagai Piagam agung yaitu Kebebasan, Kesetaraan, persaudaraan (Liberte, Egalite, Fraternite). Tunduk kepada sebuah aturan dan otoritas apapun adalah bertentangan dengan Hak azazi manusia. Inilah yang menjadi dasar berkembangnya paham liberalisme.

Dalam ranah agama maka Liberalisme berarti kebebasan menganut, meyakini, dan mengamalkan apa saja, sesuai kecendrungan, kehendak dan selera masing-masing. Jadi konsep liberalisme mengajarkan kepada masing-masing individu untuk menentukan sendiri pilihan  dalam masalah keyakinan dan agama.

Pada awalnya paham liberalisme berkembang dikalangan Protestan saja. Namun waktu demi waktu wabah ini terus menjangkiti pengikut agama lain seperti Katolik. Dan akhir-akhir ini merasuki umat beragama Islam.

Di dunia Islam virus liberalisme ini berhasil masuk dikalangan tokoh agama dan cendekiawan yang dianggap sebagai pembaharu. Mereka yang liberal pada waktu itu adalah Rifaáh at Tahtawi (1801-1873),  Qasim Amin (1863-1908), Ali Abdur Raziq (1888-1966), dan Sayid Ahmad Khan (1817-1898) dari India.

Pemikiran dan pesan yang dijual oleh tokoh-tokoh liberal tersebut sama saja yakni bahwa ajaran Islam harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, karena islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw 14 abad yang lalu tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman sekarang ini. Begitu juga Alquran dan Hadits mesti ada perbaikan baik dalam teks maupun dalam tafsirannya.  Tidak hanya itu perlu juga dilakukan modernisasi dan sekularisme dalam kehidupan beragama dan bernegara, tunduk pada aturan pergaulan internasional berdasarkan hak azazi manusia, pluralisme dan lainnya.

Di Indonesia kelompok liberal yang berkembang adalah JIL (Jelmaan Iblis Laknatullah)

Islam liberal adalah paduan kata yang tidak mungkin bisa disatukan. Karena Islam memiliki aturan yang baku, yang harus ditaati dan dipatuhi jika penganutnya ingin selamat dari azab dan siksa dari Rabbnya. Sedangkan Liberal menginginkan kebebasan yang tidak ada batasan sedikitpun. Bagaimana mungkin 2 konsep seperti ini bisa bersatu ?.

Umat Islam Indonesia harus mewaspadai gerakan JIL karena ia ibarat duri dalam tubuh umat islam. Kalau tidak diobati maka akan mengakibat kerusakan aqidah yang sangat fatal. Beberapa hal yang harus diwaspadai dari JiL ini adalah :

Mereka tidak menyuarakan Islam yang sebenarnya, tapi menyuarakan pemikiran yang berseberangan dengan Islam yang benar. Para tokohnya adalah seperti, Prof Dr Musnah Mulia (feminimisme), dan Ulil Abshar Abdala yang mengatakan semua agama adalah sama, dan diakhirat nanti akan ada yang masuk sorga dari Islam dan juga dari umat lainnya.

Kemudian mereka beriman kepada sebagian kandungan Alquran, lalu meragukannya dan kemudian menolak sebagian yang lain. Mereka menafsirkan alquran dengan cara sendiri yakni dikenal dengan istilah tafsir kontekstual, tafsir hermeneutika, tafsir kritis, dan tafsir liberal.

Beberapa contoh bentuk penyimpangan dan kerusakan aqidah dari paham liberal

  1. Mengatakan bahwa alquran adalah produk budaya, tidak suci, dan tidak berada diatas manusia.
  2. Tidak ada yang namanya hukum dibidang publik dan dunia. Hukum Tuhan hanya khusus masalah ibadah
  3. Nabi muhammad hanya tokoh historis yang memiliki kelemahan.
  4. Apabila ada orang yang berzina, maka mereka tidak boleh dihukum dengan syarat apabila pelaku tersebut melakukan atas dasar suka sama suka. Karena mereka bebas melakukan apa saja asalkan tidak merugikan pihak lain.
  5. Mereka diberi kebebasan untuk menafsirkan ayat-ayat Alquran sesuai dengan keinginannya masing-masing. Walaupun itu bertentangan dengan tafsiran yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw
  6. Merajalelanya konsep hak azazi manusia. Apabila ada suatu tindakan yang merugikan pihak lain karena tindakan dan pemikiran dari paham liberalisme, maka mereka berdalih dengan alasan hak azazi manusia. Jadi pelecehan, penghinaan dan pelanggaran agama yang mereka lakukan ditebus dengan alasan kebebasan individu (HAM).
  7. Hukuman seperti hukuman mati, potong tangan atau kaki, qishash dan lainnya dianggap tidak berperikemanusiaan dan kejam.
  8. Mensejajarkan antara laki-laki dan perempuan (persamaan gender). Akibatnya perempuan boleh menjadi imam untuk laki-laki baik shalat Fardhu maupun shalat Jumat

Masih banyak pelintiran ayat, hadits, dan hukum syarí oleh para liberal tersebut yang intinya adalah bahwa mereka tidak menerima Islam ini. Mereka hanya menggunakan ayat, serta dalil yang lain dengan tujuan untuk memutarbalikan dengan akal dan logika, sehingga mereka dapatkan sesuatu yang sesuai dengan keinginan hawa nafsu.

Wallahu A’lam

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s